Selasa, 01 Maret 2016

Analisis Film Mad City

Film yang dimainkan Jhon Travolta dan Dustin Hofmann ini, mengangkat kekuatan media sebagai kekuatan pembangunan opini yang nantinya diharapkan mampu menjadi preasure atau penetrasi dalam pengambilan keputusan, Jhon Travolta yang berperan sebagai SamBalley, dengan tanpa sengaja melakukan penyanderaan terhadap anak-anak dan seorang kurataor di museum,  hal ini di sebabkan di PHKnya Sam, tanggung  jawab sebagai seorang ayah dari dua orang anak dan seorang suami, menyebabkan Sam harus melakukan pengancaman, namun akibat penyanderaan initanpa sengaja Sam menembak temannya yang juga seroang satpam berkulit hitam Clift. Tanpa disengaja seorang reporter televisi  MaxBracket, berada dalam museum, Opini yang terbentuk diawal Sam adalah seorang penjahat, namun keterangan Sam terhadap Max, membuktikan Sam bukanlah seorang penjahat tapi hanya mendapat sedikit tekanan psikologis.

Opini publik dapat berubah dengan cepat. Image Sam sebagai seorang biasa yang putus asa berubah menjadi seorang berkepribadian bingung, pemarah dan sangat berbahaya, akibat reportase seorang wartawan senior dari sebuah jaringan televisi terkenal di New York, Kevin Hollander. Wartawan ini berusaha untuk menjatuhkan image Sam dan juga Max yang menjadi lawannya sejak lama. Dengan memakai bahan reportase yang sama (TV lokal dimana Max bekerja merupakan bagian dari jaringan TV nasional tempat Kevin bekerja sehingga semua hasil reportase menjadi milik jaringan), Kevin berhasil menjatuhkan Sam dimata publik dan sekaligus menyudutkan Max dengan menuduhnya “memanfaatkan” Sam. Opini publik kembali berubah, semua orang lebih percaya pada berita dari jaringan TV yang lebih bonafid. 

Film ini menyadarkan pada kita akan begitu dahsyatnya media telah menguasai perikehidupan. Bagaimana media mampu menjungkirbalikkan kehidupan seseorang hanya dalam hitungan hari. Telah sedemikian kuatnya media, sehingga seorang Max Brackket tidak sanggup melawan arus pembentukan opini publik. Dan pada akhirnya seorang Sam Baily yang “tidak bersalah” harus menemui ajal, karena merasa tidak lagi punya masa depan. Untuk itu diperlukan kearifan dan nilai moral yang tinggi agar tidak terjebak pada arus kekuasaan yang menyengsarakan. Semoga dengan ini kita semakin menghargai nilainilai kemanusiaan.